Bukan Sekadar Cari Perhatian: Ketika Luka Lama Membentuk Kepribadian (NPD) di Balik Label "Cari Perhatian"
- Yoga Aditiya
- 3 Sep 2025
- 2 menit membaca

Sering kali, kita terlalu cepat memberi label “cari perhatian” kepada orang lain hanya karena mereka senang dipuji, banyak bicara tentang dirinya, atau terlihat ingin menonjol. Label itu dilemparkan begitu saja, tanpa kita benar-benar memahami apa yang mereka perjuangkan di balik perilakunya.
Padahal, tidak semua perilaku yang tampak menyebalkan lahir dari ego semata. Kadang, itu justru cermin dari luka psikologis yang belum sembuh. Salah satu bentuk yang paling kompleks dari luka tersebut adalah Narcissistic Personality Disorder (NPD).
Apa Itu Narcissistic Personality Disorder (NPD)?
NPD adalah gangguan kepribadian yang ditandai dengan pola pikir dan perilaku yang sangat bergantung pada pengakuan eksternal untuk menjaga harga diri.
Beberapa ciri utama dari NPD meliputi:
Kebutuhan besar untuk dipuji atau divalidasi.
Fantasi tentang kesuksesan, kekuasaan, atau kehebatan diri.
Kesulitan merasakan empati terhadap orang lain.
Sensitivitas tinggi terhadap kritik, bahkan yang kecil sekalipun.
Namun, penting untuk dipahami: orang dengan NPD bukan berarti selalu percaya diri. Justru sebaliknya, banyak dari mereka sering merasa kosong secara emosional, tidak yakin dengan nilai dirinya, dan mencoba menutupi rasa tidak aman dengan pencitraan berlebihan.
Bagaimana Asal-Usul NPD?
Pendekatan psikodinamis menjelaskan bahwa NPD sering berakar dari pengalaman masa kecil yang penuh tekanan emosional, misalnya:
Cinta yang bersyarat: Anak merasa hanya dicintai saat berprestasi atau memenuhi ekspektasi.
Pengabaian emosional: Perasaan anak tidak dianggap penting, sehingga mereka belajar menekan emosinya sendiri.
Fokus berlebihan pada pencapaian: Segala sesuatu diukur dari nilai, prestasi, atau performa.
Dalam situasi seperti ini, anak tumbuh dengan keyakinan: “Saya baru berharga kalau saya luar biasa.” Akibatnya, mereka dewasa dengan ketakutan mendalam akan kegagalan, karena merasa itu sama dengan tidak layak dicintai.
NPD dalam Kehidupan Sehari-Hari
Dalam interaksi sehari-hari, perilaku orang dengan NPD bisa terlihat seperti:
Selalu ingin menjadi pusat perhatian.
Mudah tersinggung jika tidak mendapat pujian.
Sering membandingkan diri dengan orang lain.
Hubungan sosial yang cenderung tidak seimbang karena ingin diutamakan.
Sulit menerima kritik, bahkan yang disampaikan dengan lembut.
Mereka mungkin terlihat dominan dan percaya diri di luar, tetapi sesungguhnya menyimpan kecemasan besar: “Kalau aku tidak hebat, siapa yang akan menghargai aku?”
Luka di Balik “Topeng Narsis”
Dibalik sikap yang tampak egois, sebenarnya ada luka batin yang belum pulih:
Ketakutan untuk tidak dianggap.
Kecemasan bahwa tanpa pencapaian, mereka tidak punya nilai.
Kerinduan akan penerimaan tanpa syarat yang belum pernah mereka alami.
Perilaku mereka bukan tentang ingin menyakiti orang lain, melainkan melindungi bagian diri yang takut terluka. Namun, memahami bukan berarti membenarkan. Kita bisa berempati, tetapi tetap menjaga batasan agar tidak tersakiti oleh perilaku mereka.
Pentingnya Diagnosis Profesional
NPD tidak bisa ditentukan hanya karena seseorang narsis di media sosial atau suka dipuji. Diagnosis hanya dapat ditegakkan oleh profesional kesehatan mental ketika pola perilaku tersebut konsisten, ekstrem, dan merusak fungsi kehidupan sehari-hari.
Menutup dengan Pemahaman
Kita semua tumbuh dari luka yang berbeda. Kadang, orang yang paling keras berbicara tentang dirinya justru sedang menyembunyikan bagian diri yang paling takut ditinggalkan. Orang yang terlihat paling menonjol bisa jadi adalah yang paling tidak yakin dengan dirinya sendiri.
Kita tidak pernah benar-benar tahu cerita hidup seseorang hanya dari apa yang terlihat di permukaan. Maka sebelum melabeli seseorang sebagai “toxic” atau “narsis”, mari mulai dengan mencoba memahami. Semua orang—even yang tampak paling menyebalkan—pantas dimengerti. Karena pada akhirnya, mereka juga sedang berjuang, sama seperti kita.
Oleh Cindy Rahmatunnisa



Komentar