top of page

Parenting di Era Digital: Bijak Dampingi Anak dengan Gadget

Oleh: Aula Ashma
Oleh: Aula Ashma

Di zaman serba digital ini, rasanya hampir mustahil memisahkan anak dari gadget. Dari bangun tidur sampai mau tidur lagi, layar smartphone, tablet atau TV selalu ada di sekitar mereka. Sebagian orang tua pasti merasa khawatir “Kalau anak keseringan main gadget, nanti jadi kecanduan nggak ya?”. Tapi disisi lain justru memiliki sisi positifnya, seperti bisa menjadi sarana belajar, hiburan, sekaligus teman bermain. Pertanyaannya, bagaimana caranya agar orang tua bisa tetap bijak mendampingi anak di era digital tanpa harus jadi “polisi gadget” yang bikin suasana rumah jadi tegang?


Kabar baiknya, gadget bukanlah musuh bagi anak. Kalau digunakan dengan tepat, gadget bisa jadi sahabat anak. Banyak aplikasi edukasi, video interaktif dan permainan kreatif yang bisa membantu anak belajar dengan cara yang lebih menyenangkan. Bahkan riset menunjukkan anak-anak yang menggunakan media digital untuk belajar bisa lebih cepat mengenal huruf, angka, hingga bahasa baru. Namun di sisi lain, gadget juga bisa jadi sumber masalah kalau dibiarkan tanpa adanya batas. Anak bisa jadi sulit fokus, jarang bergerak dan kurang bersosialisasi. Lebih parahnya lagi, mereka bisa tantrum setiap kali gadgetnya diambil.


Tentu saja setiap hal yang punya sisi positif pasti juga ada sisi negatifnya. Begitu juga dengan gadget. Kalau penggunaannya tidak terkontrol, gadget bisa menimbulkan masalah baru bagi anak. Beberapa dampak yang sering muncul antara lain.

  1. Kurangnya interaksi sosial pada anak

Anak yang terlalu lama dengan gadget cenderung kehilangan kesempatan belajar keterampilan sosial, seperti empati dan komunikasi tatap muka. Studi di Turki pada anak usia 3-6 tahun menunjukkan bahwa semakin tinggi screen time, semakin rendah kemampuan sosial dan regulasi emosi mereka.

  1. Gangguan tidur

Paparan cahaya biru dari layar bisa menghambat produksi melatonin sehingga anak susah tidur. Peneliti juga menemukan penggunaan gadget di malam hari dapat menurunkan durasi dan kualitas tidur anak.

  1. Ketergantungan dan emosi yang mudah meledak

Gadget yang jadi sumber hiburan utama membuat anak mudah tantrum ketika dibatasi. Penelitian menemukan screen time ≥4 jam per hari tanpa pendampingan orang tua berhubungan dengan tingginya emosi negatif pada anak pra-sekolah.

  1. Kurangnya aktivitas gerak diluar ruangan

Semakin lama anak di depan layar, semakin sedikit waktu bergerak. Studi pada >1.300 anak menemukan screen time tinggi berkaitan dengan risiko obesitas dan masalah kardiometabolik sejak usia dini.


Melihat bagaimana risiko gadget bisa membuat anak kecanduan hingga memengaruhi emosi dan kesehariannya, jelas orang tua tidak bisa tinggal diam. Namun bukan berarti solusi terbaik adalah melarang total penggunaan gadget. Justru yang dibutuhkan adalah pendampingan, aturan yang konsisten dan alternatif kegiatan positif agar anak bisa belajar menggunakannya secara sehat. Berikut beberapa tips sederhana yang bisa diterapkan di rumah.

  1. Atur Screen Time sesuai dengan usia anak

Batasan waktu penggunaan gadget penting supaya anak tidak tenggelam terlalu lama di depan layar. American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan anak usia 2–5 tahun maksimal 1 jam per hari dengan konten berkualitas, sementara anak usia sekolah bisa sedikit lebih lama, tapi tetap dalam pengawasan.

  1. Dampingi anak saat bermain gadget

Pendampingan orang tua saat anak menggunakan gadget bukan hanya untuk mengawasi, tapi juga membuka ruang interaksi. Duduk bersama ketika anak menonton video atau bermain game bisa menjadi momen bonding, sekaligus kesempatan untuk memberi arahan tentang konten yang ditonton. Anak juga merasa lebih diperhatikan sehingga tidak menjadikan gadget sebagai pelarian dari kesepian.

  1. Pilih konten yang bermanfaat

Tidak semua konten digital berdampak negatif. Ada banyak aplikasi edukasi, film animasi dengan pesan moral, hingga game yang bisa melatih kreativitas dan logika anak. Orang tua berperan sebagai filter utama dalam memilih mana yang sesuai usia dan kebutuhan.

  1. Berikan alternatif aktivitas yang menyenangkan

Semakin seru aktivitas di dunia nyata, semakin kecil kemungkinan anak kecanduan gadget. Ajak anak melakukan kegiatan seperti olahraga ringan, bermain puzzle, membaca buku atau berkarya lewat seni.

  1. Jadilah role model bagi anak

Anak adalah peniru yang ulung. Kalau orang tua sibuk scrolling media sosial sepanjang waktu, anak akan menganggap itu perilaku wajar. Sebaliknya, ketika orang tua menunjukkan kebiasaan sehat dalam menggunakan gadget, anak akan belajar meniru hal yang sama. Jadi sebelum mengajarkan anak tentang disiplin digital, pastikan kita juga sudah memberikan contoh yang baik.

Parenting di era digital bukan berarti harus memusuhi gadget. Justru sebaliknya, orang tua bisa memanfaatkannya sebagai sarana belajar, hiburan, bahkan kesempatan untuk mempererat hubungan dengan anak. Kuncinya ada pada pendampingan dan keseimbangan. Ingat, gadget hanyalah alat. Yang menentukan bagaimana anak tumbuh dan berkembang tetaplah orang tua yang hadir, membimbing dan memberi contoh nyata setiap harinya.




 
 
 

Postingan Terakhir

Lihat Semua

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bottom of page