top of page

Parenting di SMPN 9 Bandung: Menjadi Pengasuh untuk Remaja

oleh: Nira Wulansari, M.Psi., Psikolog
oleh: Nira Wulansari, M.Psi., Psikolog

Bandung, 26 September 2025 – SMPN 9 Bandung hari ini menyelenggarakan kegiatan parenting yang menghadirkan narasumber Bu Nira Wulansari, M.Psi., Psikolog. Kegiatan ini diikuti oleh orang tua siswa dengan penuh antusias sebagai bagian dari upaya sekolah dalam memperkuat kolaborasi antara keluarga dan sekolah dalam mendampingi perkembangan remaja.


Dalam pemaparannya, Bu Nira menekankan pentingnya pola asuh yang tepat pada masa remaja. Menurut beliau, remaja berada pada tahap perkembangan yang penuh tantangan, di mana mereka membutuhkan dukungan emosional, komunikasi yang hangat, serta batasan yang jelas dari orang tua. “Remaja bukan hanya butuh diawasi, tetapi juga dipahami. Pola asuh yang penuh perhatian, terbuka, dan konsisten akan membantu mereka tumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri dan bertanggung jawab,” ujar Bu Nira.


Lebih lanjut, Bu Nira menjelaskan bahwa pola asuh remaja berbeda dengan pola asuh pada masa anak-anak. Jika anak kecil cenderung membutuhkan bimbingan langsung, maka remaja lebih memerlukan ruang untuk bereksplorasi sekaligus arahan yang bersifat mendampingi. Menurutnya, salah satu kesalahan yang sering dilakukan orang tua adalah terlalu mengontrol sehingga remaja merasa terkekang, atau sebaliknya terlalu membiarkan sehingga remaja kehilangan arah. “Keseimbangan antara kasih sayang dan ketegasan sangat penting. Orang tua harus hadir sebagai pengasuh yang tidak hanya memberi aturan, tetapi juga alasan dan pemahaman di balik aturan itu,” jelasnya.


Beliau juga menyinggung peran komunikasi dalam membangun hubungan sehat antara orang tua dan remaja. Komunikasi yang efektif bukan hanya soal memberi nasihat, tetapi juga mendengar secara aktif apa yang dirasakan anak. Dengan mendengar tanpa buru-buru menghakimi, orang tua dapat memahami sudut pandang remaja dan membantu mereka menemukan solusi atas masalah yang dihadapi. “Sering kali remaja hanya butuh didengarkan, bukan segera diberi ceramah. Dari situ orang tua bisa menunjukkan bahwa mereka dipercaya, sehingga anak pun lebih terbuka,” tambah Bu Nira.


Selain itu, Bu Nira mengingatkan orang tua untuk lebih peka terhadap kebutuhan psikologis remaja. Masa remaja adalah masa pencarian identitas, di mana tekanan dari lingkungan pertemanan, sekolah, dan media sosial sangat berpengaruh. Orang tua diharapkan tidak hanya fokus pada capaian akademik, tetapi juga pada kondisi emosional anak. “Kita sering lupa bahwa prestasi terbaik muncul dari remaja yang sehat secara mental. Jadi, dukungan emosional sama pentingnya dengan dukungan belajar,” tegasnya.


Materi yang disampaikan Bu Nira terasa relevan dengan situasi saat ini, di mana banyak orang tua menghadapi tantangan baru dalam mendampingi anak yang tumbuh di era digital. Ia menekankan pentingnya peran orang tua sebagai teladan. Penggunaan gawai, misalnya, tidak bisa hanya diatur dengan larangan, tetapi perlu dibarengi dengan contoh nyata dari orang tua. Jika orang tua bijak menggunakan teknologi, maka anak akan lebih mudah meniru perilaku tersebut.

Kegiatan parenting ini diakhiri dengan sesi tanya jawab interaktif. Banyak orang tua yang mengungkapkan keresahan, mulai dari anak yang sulit lepas dari media sosial hingga kurangnya motivasi belajar. Bu Nira menanggapi setiap pertanyaan dengan pendekatan praktis, memberi tips sederhana namun bermakna, seperti meluangkan waktu khusus untuk ngobrol santai, memberi apresiasi kecil pada setiap usaha anak, hingga menyusun aturan keluarga yang disepakati bersama.

Pihak sekolah berharap kegiatan semacam ini dapat terus berlanjut. Kepala SMPN 9 Bandung menuturkan bahwa parenting menjadi wadah penting untuk menyatukan visi antara orang tua dan sekolah. “Dengan kegiatan ini, kami berharap orang tua semakin memahami bagaimana menjadi pengasuh bagi remaja yang tidak hanya mengawasi, tetapi juga mendampingi dengan hati,” ujarnya.


Acara kemudian ditutup dengan pesan dari Bu Nira bahwa pengasuhan adalah proses jangka panjang yang membutuhkan kesabaran, konsistensi, dan kehangatan. Dengan menjadi pengasuh yang hadir sepenuh hati, remaja akan memiliki fondasi kuat untuk tumbuh menjadi generasi yang tangguh, berkarakter, dan siap menghadapi masa depan.

 
 
 

Postingan Terakhir

Lihat Semua

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bottom of page