top of page

Ramah diLuar, Hancur di Dalam: Fenomena People Pleaser yang Sering Disalahpahami

Oleh: Putri Siti Nurjannah
Oleh: Putri Siti Nurjannah

“Dia selalu ada buat orang lain, selalu tersenyum, dan nggak pernah menolak permintaan. Tapi kok belakangan dia terlihat lelah, ya?”

Kalimat semacam ini mungkin terdengar familiar. Di sekitar kita ada orang-orang yang tampak ceria, ringan tangan, dan selalu berusaha menyenangkan orang lain. Mereka sering dilabeli sebagai people pleaser. Namun di balik keramahan itu, tak jarang tersimpan hati yang letih, cemas, bahkan hancur.


Apa Itu People Pleaser?

Secara sederhana, people pleaser adalah individu yang memiliki kecenderungan untuk selalu menomorsatukan kebutuhan orang lain, meski harus mengorbankan dirinya sendiri. Mereka sering kesulitan berkata “tidak,” merasa bersalah jika menolak, dan cemas kalau dianggap mengecewakan.

 People pleaser adalah istilah yang merujuk kepada seseorang yang cenderung melakukan segala hal untuk memuaskan dan menyenangkan orang lain, bahkan jika itu berarti mengabaikan kebutuhan dan keinginan pribadi mereka sendiri. People pleaser juga merupakan seseorang yang sulit mengatakan apa yang mereka inginkan, atau mereka tidak suka melawan arus. Seorang people pleaser mungkin akan meminta maaf ketika mereka tidak melakukan kesalahan atau merasa bersalah karena mengubah rencana. People pleaser juga mungkin lebih mudah untuk mengatakan ya daripada menjelaskan mengapa mengatakan seseorang yang merasa tidak (Turrell, 2021, 6). 

Dari luar, sikap ini tampak mulia. Siapa yang tidak suka dengan orang yang selalu membantu dan ramah? Tetapi, ketika dilakukan berlebihan, pola ini bisa menjadi beban psikologis yang berat.

Akar Psikologis: Mengapa Orang Menjadi People Pleaser?

Fenomena people pleasing bukan muncul tiba-tiba. Ada beberapa faktor yang biasanya melatarbelakanginya:

  1. Pola Asuh di Masa Kecil  Anak yang tumbuh dalam keluarga penuh kritik, penolakan, atau minim kasih sayang sering belajar bahwa cara “selamat” adalah dengan menjadi anak baik yang selalu menyenangkan orang lain.

  2. Trauma dan Luka Lama Pengalaman ditolak, diabaikan, atau dianggap tidak cukup sering meninggalkan jejak. Membuat seseorang percaya bahwa dirinya hanya berharga jika ia bermanfaat bagi orang lain.

  3. Harga Diri yang Rapuh Nilai diri people pleaser kerap bergantung pada pengakuan eksternal. Jika dipuji, mereka lega. Jika dikritik, mereka runtuh.

Dampak Psikologis

Sikap  people pleaser memang terlihat positif, ramah, disenangi banyak orang, bahkan jadi pusat perhatian. Namun riset menunjukkan, perilaku people pleasing dapat berdampak negatif, seperti meningkatnya kecemasan sosial, burnout, hingga depresi (Leary & Kowalski, 1995; Flett & Hewitt, 2002).

  • Kehilangan identitas diri karena selalu mengikuti orang lain.

  • Lelah emosional akibat menekan perasaan sendiri.

  • Muncul kecemasan berlebih dan rasa bersalah kronis.

  • Resentment atau kebencian terpendam terhadap orang-orang yang “ditolong.”

  • Rentan mengalami burnout, depresi, bahkan masalah kesehatan fisik.

Miskonsepsi yang Sering Muncul

Banyak orang salah memahami people pleaser. Ada yang bilang “terlalu baik,” “suka cari muka,” atau “nggak punya pendirian.” Padahal:

  • Mereka sering berusaha ramah karena takut ditolak, bukan karena ingin dipuji.

  • Sikap ini merupakan coping mechanism yang terbentuk sejak lama (Cramer, 2006).

  • Dalam banyak kasus, people pleasing lebih dekat dengan survival strategy daripada sekadar pilihan sadar.


Jalan Menuju Pemulihan

Berhenti menjadi people pleaser bukan perkara mudah, tapi sangat mungkin dilakukan. Beberapa langkah kecil yang bisa ditempuh antara lain:

  1. Mengenali Pola, menyadari kapan sedang berkata “iya” hanya karena takut mengecewakan (Young, Klosko, & Weishaar, 2003).

  2. Membangun Boundaries, belajar menolak tanpa merasa bersalah.

  3. Validasi Diri – berlatih menghargai diri sendiri tanpa menunggu pengakuan dari luar (Neff, 2003).

  4. Mencari Bantuan Profesional,  terapi dapat membantu menelusuri akar luka batin dan membangun harga diri yang lebih sehat.

Di balik sikap selalu ramah, ada jiwa yang mungkin menjerit ingin didengar. Menjadi people pleaser bukan tentang kelembutan semata, melainkan tentang luka yang pernah diajarkan untuk disembunyikan. Dengan memahami mereka, kita belajar bahwa empati adalah cara sederhana untuk membuat seseorang merasa benar-benar cukup, apa adanya. Tak semua senyum berarti bahagia, dan tak semua kebaikan datang tanpa luka. People pleaser mengajarkan kita satu hal penting: bahwa keberanian terbesar bukanlah selalu berkata ‘iya,’ melainkan berani mengatakan ‘saya juga berhak merasa cukup’.


 
 
 

Postingan Terakhir

Lihat Semua

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bottom of page